Sabtu, 15 Februari 2014

Menulis Itu...

Bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang yang susah. Menulis itu sebenarnya mudah, tapi sulit untuk dilakukan. Iyaa, mudah dan sulit memang hal yang berlawanan. Kalau kita tidak mengalami kesulitan, maka kita tak akan tau apa itu kemudahan, sebaliknya.
Bagi saya menulis itu suatu hal yang sulit, dan saya menyadarinya. Tau kenapa? Saya sadar bahwa menulis itu tidaklah mudah, maka dari itu saya mengupayakan berbagai cara untuk membuat menulis itu menjadi mudah.
Ada banyak alasan mengapa menulis bagi saya adalah sulit:
1. sering merasa takut kalau nantinya tulisan saya jelek (padahal kalau di laptop atau komputer tinggal ketik aja, kenapa masih takut jelek ya??) bukan itu, maksudnya kalimat yang saya tulis jelek dan tak berbobot isinya.
2. seringkali merasa tidak pede alias tidak percaya diri alias lagi minder, kalau tulisan saya dibaca oranglain, dan menurut orang lain tulisan saya jelek (uuh, lagi-lagi jelek).
3. berat banget untuk memulainya. Ini hal yang sepele tetapi bisa jadi penyakit, yaitu malas dan menunda-nunda. Mau menulis saja sudah berpikir, nanti ah, aduh jangan sekarang lah nulisnya, hmm, males banget mau buka buku atau nyalain laptop/komputer.
Tiga alasan itu mewakili keluhan saya mengapa menulis itu menjadi sebuah hal yang sulit atau susah untuk dilakukan. Saya menyadarinya, dan saya berusaha untuk tidak membuatnya menjadi sulit, caranya:
1. membaca. Baca apa saja yang manfaat, agar bisa perbanyak kosa kata. Sayangnya untuk membaca pun harus dipaksakan.
2. sharing dengan teman atau orang yang senang dengan menulis. Ini cukup memotivasi agar mau untuk menulis. Ibaratnya, orang lain saja bisa, mengapa saya tidak?!
3. memaksa diri sendiri untuk mau menulis apapun, dimanapun (asal pada tempatnya lho ya), dan kapanpun. Tulislah walaupun hanya satu paragraf, atau satu kalimat, atau bahkan cuma satu kata. ini cukup jitu untuk membuat diri menjadi semangat untuk menulis. Atau bisa di buku khusus, diary misalnya.

Tiga alasan dan tiga solusi. Mencoba untuk menghilangkan tiga masalah menulis dengan tiga solusi yang sudah ada. Ternyata bagi saya belum cukup untuk menghilagkan ketakutan dan keengganan saya pada menulis. Sebetulnya saya sangatlah suka menulis. Blog ini juga menjadi salah satu cara saya buat meng-upgrade dan memotivasi untuk menulis, apapun itu. Factually, dari awal pembuatan, sampai sekarang, belum banyak yang bisa saya tulis. Oke, dalam menulis itu harus ada semangat, dan pikiran yang positif. SAYA PASTI BISA.

Mulai menulis dengan niat yang baik, semangat, berpikir positif, percaya diri, dan InsyaAllah Bermanfaat minimal untuk diri sendiri, dan semoga bisa bermanfaat untuk orang lain.

Buat temen-temen yang senang menulis, ayo berbagai semangat dan ilmunya :).
Pengalaman itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Pengalaman itu indah dan perlu dituliskan. pengalaman itu guru terbaik, untuk menjadikan hidup lebih baik ^_^
Semangat menulis

Kamis, 28 November 2013

PERAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK



Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.
Ada banyak cara untuk memberikan pendidikan kepada anak baik formal maupun non formal. Adapun pendidikan formal tidak sebatas dengan memberikan pengetahuan dan keahlian kepada anak-anak mereka di sekolah. Selain itu pendidikan non formal menanamkan tata nilai yang serbaluhur atau ahlak mulia, norma-norma, cita-cita, tingkah laku dan aspirasi dengan bimbingan orang tua di rumah.
Sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan formal memerlukan banyak hal yang mendukung yaitu antara lain kepentingan dan kualitas yang baik dari kepala sekolah dan guru, peran aktif dinas pendidikan/pengawas sekolah, peran aktif orangtua dan peran aktif masyarakat sekitar sekolah. Akan tetapi orang tua juga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan orang tua di rumah dan orang tua yang mempunyai tanggung jawab utama terhadap masa depan anak-anak mereka, sekolah hanya merupakan lembaga yang membantu proses tersebut. Sehingga peran aktif dari orang tua sangat diperlukan bagi keberhasilan anak-anak di sekolah.
Ada beberapa cara dalam meningkatkan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. Pertama, dengan mengontrol waktu belajar dan cara belajar anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat PR dari sekolah atau akan menghadapi ulangan. Setiap hari anak-anak diajarkan untuk mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru pada hari itu. Dan diberikan pengertian kapan anak-anak mempunyai waktu untuk bermain.
Kedua, memantau perkembangan perkembangan kemampuan akademik anak. Orang tua diminta untuk memeriksa nilai-nilai ulangan dan tugas anak mereka.
Ketiga, memantau perkembangan kepribadian yang mencakup sikap, moral dan tingkah laku anak-anak. Hal ini dapat dilakukan orang tua dengan berkomunikasi dengan wali kelas untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.
Keempat, memantau efektivitas jam belajar di sekolah. Orang tua dapat menanyakan aktifitas yang dilakukan anak mereka selama berada di sekolah. Dan tugas-tugas apa saja yang diberikan oleh guru mereka. Kebanyakan siswa tingkat SMP dan SMA tidak melaporkan adanya kelas-kelas kosong dimana guru mereka berhalangan hadir. Sehingga pembelajaran yang ideal di sekolah tidak terjadi dan menjadi tidak efektif.
Selain semua hal tersebut di atas ada beberapa hal lain perlu diperhatikan yaitu membantu anak mengenali dirinya (kekuatan dan kelemahannya), membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakkan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang hidupnya.
Pendidikan sebenarnya diperoleh anak melalui sosialisasi keluarga. Dalam keluarga ada beberapa hal yang menjadi poin penting yang perlu ditekankan pada anak, diantaranya pendidikan agama, pendidikan moral, life skill, bahkan sampai pendidikan formal. Melihat kondisi anak yang umumnya masih labil, pada dasarnya anak sering mengalami kebingungan dalam memilih sekolah yang tepat. Hal ini disebabkan anak belum mampu mempertimbangkan pendidikan model apa yang terbaik buat dirinya, maka orangtua berkewajiban mencarikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Pendidikan yang baik tentunya sesuai dengan karakteristik anak. Masing-masing anak mempunyai kebutuhan berbeda untuk model pendidikannya, sesuai dengan kemampuan anak sesuai dan juga kemauan anak.
Dalam hal ini bukan berarti orang tua boleh memaksakan kehendaknya, tapi lebih pada memberi pengertian pada si anak sekolah apa yang cocok buat dirinya, dan prospek ke depan bagaimana dan tentunya harus paham akan kemampuan anak. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangan orang tua ketika memilihkan sekolah untuk anak-anaknya. Misalnya saja dari fasilitas sekolah yang terdiri dari ruang kelas, lapangan olahraga, fasilitas pendukung lainnya. SDM sekolah, guru, kepala sekolah, kurikulum yang ditawarkan lokasi, dan biaya yang dibutuhkan.
Bila dilihat dari sejarah, tugas pertama manusia adalah beranak cucu dan bertambah banyak. Manusia diberi mandat untuk mempunyai keturunan yang berkualitas; baik rohani, intelektual, emosi, kehendak dan fisik yang sehat. Tugas manusia yang kedua adalah memenuhi dan menaklukkan bumi dan menguasai yang ada di dalamnya. Ada hubungan yang tidak terpisahkan antara tugas yang pertama dan yang kedua. Dengan bertambahnya keturunan manusia yang "seutuhnya", diharapkan daerah-daerah yang kosong dapat dihuni, dikuasai, dan dipelihara. Manusia diberi kuasa untuk memelihara dan mengembangkan bumi dan segala isinya.
Dalam kedua tugas itu sudah tersimpan esensi pendidikan. Peran orang tua sangat besar dalam mendidik anaknya dan merupakan hal yang alami. Orang tua memperkenalkan alam kepada anaknya: bunga di halaman rumah, burung dalam sangkar dan yang lain-lain. Mereka terus mendidik anaknya dengan sabar agar dapat mengucapkan kata, berbicara, makan dan berjalan sendiri. Orang tua memberikan contoh bagaimana melakukan tugas sehari-hari di rumah: mencuci piring, memasak, membersihkan rumah dan sebagainya.
Bahkan sampai menginjak dewasa, orang tua masih terus mendidik anaknya agar menjadi anak yang mandiri dan matang, dan dapat menjalani hidupnya sendiri. Selain itu, orang tua memberikan nilai-nilai etis, apa yang baik dan yang tidak baik bagi masyarakat. Apa yang diberikan orang tua kepada putra-putrinya merupakan esensi dari pendidikan secara umum. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Orang tua mendidik anaknya tentang prinsip hidup; bagaimana anak seharusnya hidup; bagaimana anak berinteraksi kepada Penciptanya, sesama manusia dan alam.
Untuk itu sudah menjadi kewajiban orang tua untuk juga belajar dan terus menerus mencari ilmu, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak. Agar terhindar dari kesalahan dalam mendidik anak yang dapat berakibat buruk bagi masa depan anak-anak. Orang tua harus lebih memperhatikan anak-anak mereka, melihat potensi dan bakat yang ada di diri anak-anak mereka, memberikan sarana dan prasarana untuk mendukung proses pembelajaran mereka di sekolah. Para orang tua diharapkan dapat melakukan semua itu dengan niat yang tulus untuk menciptakan generasi yang mempunyai moral yang luhur dan wawasan yang tinggi serta semangat pantang menyerah.

Sumber :
http://bbawor.blogspot.com/2008/08/peran-orang-tua-dalam-pendidikan-anak.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+BungaKehidupan+%28BUNGA+KEHIDUPAN%29