Senin, 17 Februari 2014

Memahami Karakteristik dan Psikologis Anak

Ada apa sebenarnya dengan "Fendi, Hafid, Jundan, dan anak-anak itu?"
Pertanyaan itu seringkali muncul dalam hati saya, dan pikiran saya pun menjadi melayang kemana-mana.
Sabar... sabar, kalimat itu yang berusaha menenangkan hati saya.
Berhadapan dengan anak, ternyata bukanlah hal yang perlu dianggap biasa. Biasa dalam arti, semua anak-anak dianggap sama, yaitu sama sifatnya, sama pemikirannya, maupun sama karakternya. Anggapan tersebut harus dihindari, karena akan membuat anak tak memperoleh apa yang menjadi kebutuhannya.

Ini yang saya alami ketika saya mengajar di kelas III dan IV, kelas yang luar biasa, dan menjadi spesial karena anak-anaknya juga luar biasa terlebih ketika tertuju pada beberapa anak. Mengajar di kelas tersebut butuh persiapan ekstra agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, dan tujuan dari pembelajaran bisa tercapai. Sebenarnya tidak hanya di kedua kelas tersebut saya harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di kelas lain pun perlu persiapan ketika hendak mengajar tetapi tak seekstra dua kelas yang saya sebutkan tadi. Whatever, saya menyimpulkan bahwa "mengajar bukan perkara yang "gampang".

Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer ilmu kepada anak, memberikan materi dengan ceramah, mencatat, mendikte, anak-anak harus duduk tenang mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama. Pembelajaran bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Mengajar dan mendidik secara kasat seringkali dipahami sebagai hal yang tidak berbeda, padahal antara keduanya adalah hal yang tak sama. Mengajar boleh diartikan dengan mentransfer ilmu, berbeda dengan mendidik bukanlah hanya mentransfer ilmu atau transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Nilai itu penting. Bukan nilai angka yang dimaksud, akan tetapi nilai sikap yang akan membentuk karakter seorang anak. Guru itu mempunyai peran sangat-sangat penting bagi perkembangan dan pembentukan karakter seorang anak. Oleh karena itu, setiap anak harus mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya. Apalagi berkaitan dengan karakteristik/sikap anak yang berbeda atau bisa dikenal dengan psikologi anak.

Membahas tentang Psikologi Anak, saya sendiri juga tidak begitu menguasai. Sedikit banyak pengetahuan yang saya dapat dari bangku kuliah dan buku-buku referensi yang saya baca, khususnya tentang perbedaan individual. Bahwa anak adalah individu yang mempunyai perbedaan satu sama lain, meliputi perbedaan jenis kelamin (gender), perbedaan prestasi di kelas, perbedaan kemampuan, perbedaan kepribadian, dan perbedaan gaya belajar.


Psikologi perbedaan individu tersebut menguji dan menjelaskan bagaimana orang-orang dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak.
Dan karakteristik pembelajaran yang efektif adalah jika pembelajaran dapat merespon kebutuhan khusus masing-masing siswa/anak.

Pengetahuan yang kurang terhadap karakteristik dan perkembangan psikologis anak akan meghambat proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran itu sendiri tidak tercapai, yaitu kebutuhan siswa yang tidak terpenuhi.
Guru seyogiyanya bisa memahami masing-masing anak didiknya (siswa) sehingga dapat memberikan pembelajaran atau pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Mari para "Guru" kita berproses untuk pendidikan yang lebih baik ^_^ sehingga anak didik kita memperoleh hak dan kebutuhan mereka. Anak didik dapat berkembang sesuai dengan perkembangannya secara optimal.


Sabtu, 15 Februari 2014

Menulis Itu...

Bukan hal yang mudah, juga bukan hal yang yang susah. Menulis itu sebenarnya mudah, tapi sulit untuk dilakukan. Iyaa, mudah dan sulit memang hal yang berlawanan. Kalau kita tidak mengalami kesulitan, maka kita tak akan tau apa itu kemudahan, sebaliknya.
Bagi saya menulis itu suatu hal yang sulit, dan saya menyadarinya. Tau kenapa? Saya sadar bahwa menulis itu tidaklah mudah, maka dari itu saya mengupayakan berbagai cara untuk membuat menulis itu menjadi mudah.
Ada banyak alasan mengapa menulis bagi saya adalah sulit:
1. sering merasa takut kalau nantinya tulisan saya jelek (padahal kalau di laptop atau komputer tinggal ketik aja, kenapa masih takut jelek ya??) bukan itu, maksudnya kalimat yang saya tulis jelek dan tak berbobot isinya.
2. seringkali merasa tidak pede alias tidak percaya diri alias lagi minder, kalau tulisan saya dibaca oranglain, dan menurut orang lain tulisan saya jelek (uuh, lagi-lagi jelek).
3. berat banget untuk memulainya. Ini hal yang sepele tetapi bisa jadi penyakit, yaitu malas dan menunda-nunda. Mau menulis saja sudah berpikir, nanti ah, aduh jangan sekarang lah nulisnya, hmm, males banget mau buka buku atau nyalain laptop/komputer.
Tiga alasan itu mewakili keluhan saya mengapa menulis itu menjadi sebuah hal yang sulit atau susah untuk dilakukan. Saya menyadarinya, dan saya berusaha untuk tidak membuatnya menjadi sulit, caranya:
1. membaca. Baca apa saja yang manfaat, agar bisa perbanyak kosa kata. Sayangnya untuk membaca pun harus dipaksakan.
2. sharing dengan teman atau orang yang senang dengan menulis. Ini cukup memotivasi agar mau untuk menulis. Ibaratnya, orang lain saja bisa, mengapa saya tidak?!
3. memaksa diri sendiri untuk mau menulis apapun, dimanapun (asal pada tempatnya lho ya), dan kapanpun. Tulislah walaupun hanya satu paragraf, atau satu kalimat, atau bahkan cuma satu kata. ini cukup jitu untuk membuat diri menjadi semangat untuk menulis. Atau bisa di buku khusus, diary misalnya.

Tiga alasan dan tiga solusi. Mencoba untuk menghilangkan tiga masalah menulis dengan tiga solusi yang sudah ada. Ternyata bagi saya belum cukup untuk menghilagkan ketakutan dan keengganan saya pada menulis. Sebetulnya saya sangatlah suka menulis. Blog ini juga menjadi salah satu cara saya buat meng-upgrade dan memotivasi untuk menulis, apapun itu. Factually, dari awal pembuatan, sampai sekarang, belum banyak yang bisa saya tulis. Oke, dalam menulis itu harus ada semangat, dan pikiran yang positif. SAYA PASTI BISA.

Mulai menulis dengan niat yang baik, semangat, berpikir positif, percaya diri, dan InsyaAllah Bermanfaat minimal untuk diri sendiri, dan semoga bisa bermanfaat untuk orang lain.

Buat temen-temen yang senang menulis, ayo berbagai semangat dan ilmunya :).
Pengalaman itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Pengalaman itu indah dan perlu dituliskan. pengalaman itu guru terbaik, untuk menjadikan hidup lebih baik ^_^
Semangat menulis